BICARA

Bea Sabila

18 januari 2016

 

Aku ditakdirkan untuk menulis bukan berbicara.

Aku ditadirkan untuk menjadi penulis bukan pembicara.

Tapi aku pembicara. Bisa bicara.

Pembicara didalam hati, bukan pembicara didalam publik.

 

Aku bukan tak mau bicara.

Tapi tak ada yang harus dibicarakan.

Dari pada bicara, aku lebih baik mendengarkan.

Dari pada bicara, aku lebih baik mengerjakan.

 

Aku diantara orang-orang yang suka bicara.

Sekalinya aku ingin bicara, tak ada yang mau mendengarkan.

Sekalinya aku ingin bicara, aku kembali mendengarkan.

Aku benar-benar diantara orang-orang yang suka bicara.

 

Ternyata orang-orang lebih suka pembicara.

Aku yang tak bisa bicara berada dipojok keramaian.

Aku yang tak bisa bicara tak diketahui teman-teman.

Aku yang tak bisa bicara sangat kesepian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s